SRAGEN ,Veritas— Pengelolaan Dana Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah sejumlah anggaran desa selama periode 2020–2025 tercatat dialokasikan untuk berbagai kegiatan, termasuk penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pembangunan Ruko Mondokan, pengembangan desa wisata hingga pembangunan sarana pendukung lainnya.
Berdasarkan data anggaran yang dihimpun, total belanja pada sejumlah kegiatan tersebut mencapai sekitar Rp1.378.128.900 dalam kurun enam tahun.
Salah satu pos yang cukup menonjol adalah penyertaan modal BUMDes. Jika dijumlahkan, penyertaan modal yang tercatat pada 2020 hingga 2025 mencapai Rp360.860.000.
Aliran Anggaran dari Tahun ke Tahun
Pada 2020, tercatat pembangunan gedung BUMDes sebesar Rp82.149.000 dan penyertaan modal BUMDes sebesar Rp2.500.000. Total kedua kegiatan mencapai Rp84.649.000.
Kemudian pada 2021, pemerintah desa kembali mengalokasikan penyertaan modal BUMDes sebesar Rp65.000.000. Pada tahun yang sama terdapat pengadaan kandang burung Tyto Alba senilai Rp14.950.000. Total anggaran yang tercatat mencapai Rp79.950.000.
Memasuki 2022, penyertaan modal BUMDes kembali dialokasikan sebesar Rp60.000.000. Selain itu terdapat pembangunan Ruko Mondokan sebesar Rp79.624.000, pengadaan tleser pertanian Rp36.000.000, serta pengadaan kandang dan burung Tyto Alba sebesar Rp13.754.000.
Total kegiatan yang tercatat pada tahun tersebut mencapai Rp189.378.000.
Pada 2023, alokasi anggaran semakin besar. Penyertaan modal BUMDes tercatat Rp15.000.000, pembangunan Ruko Mondokan Rp149.640.725, pengembangan desa wisata Rp179.201.375, perbaikan taman desa Rp98.195.700, pengadaan mesin tanam padi Rp19.933.900, serta pengadaan rumah burung Tyto Alba Rp9.735.500.
Totalnya mencapai Rp471.707.200.
Sementara pada 2024, tercatat pembangunan Ruko Mondokan sebesar Rp118.600.200, pembangunan kolam renang Rp119.876.500, dan perbaikan taman desa Rp40.888.000. Total mencapai Rp279.364.700.
Sedangkan pada 2025, penyertaan modal BUMDes kembali mendapat porsi cukup besar, yakni Rp218.360.000. Selain itu terdapat pengurukan Lapangan Tawang sebesar Rp54.720.000, sehingga total tercatat Rp273.080.000.
BUMDes dan Ruko Mondokan Jadi Sorotan
Dari keseluruhan data tersebut, dua pos yang patut mendapat perhatian lebih lanjut adalah penyertaan modal BUMDes dan pembangunan Ruko Mondokan.
Total penyertaan modal BUMDes selama periode tersebut mencapai Rp360.860.000.
Sementara pembangunan Ruko Mondokan yang tercatat pada 2022, 2023 dan 2024 mencapai Rp347.864.925.
Dengan demikian, dua kegiatan tersebut saja mencapai sekitar Rp708,7 juta.
Besarnya anggaran tersebut tentu menimbulkan pertanyaan publik mengenai hasil dan manfaat yang telah diterima masyarakat Desa Tunggul.
Apakah penyertaan modal BUMDes tersebut telah menghasilkan keuntungan yang signifikan dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes)?
Bagaimana perkembangan usaha BUMDes setelah menerima penyertaan modal ratusan juta rupiah?
Lalu, bagaimana kondisi dan pemanfaatan Ruko Mondokan yang dibangun secara bertahap selama beberapa tahun?
Apakah ruko tersebut telah memberikan pemasukan bagi desa sesuai dengan tujuan pembangunannya?
Pertanyaan lainnya adalah bagaimana hubungan antara pembangunan ruko, pengelolaan BUMDes, serta manfaat ekonominya bagi masyarakat Desa Tunggul.
Bukan Sekadar Besarnya Anggaran
Dalam perspektif pengelolaan Dana Desa, persoalan bukan semata-mata mengenai besar atau kecilnya anggaran yang digunakan. Yang tidak kalah penting adalah transparansi penggunaan anggaran, hasil kegiatan, keberlanjutan program, serta manfaat nyata yang diterima masyarakat.
Jika sebuah kegiatan menggunakan anggaran desa secara bertahap dalam beberapa tahun, masyarakat tentu berhak mengetahui bagaimana perkembangan aset tersebut, siapa yang mengelola, bagaimana pendapatannya, serta apakah terdapat kontribusi terhadap perekonomian desa.
Begitu pula dengan penyertaan modal BUMDes. Publik berhak memperoleh informasi mengenai bentuk usaha yang dijalankan, laporan perkembangan usaha, aset yang dimiliki, pendapatan, keuntungan atau kerugian, serta kontribusinya terhadap desa.
Perlu Klarifikasi Pemerintah Desa
Atas data tersebut, Pemerintah Desa Tunggul perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai realisasi dan manfaat dari sejumlah kegiatan tersebut.
Termasuk mengenai total penyertaan modal BUMDes sebesar Rp360,86 juta, pembangunan Ruko Mondokan sekitar Rp347,86 juta, serta berbagai kegiatan lain yang secara keseluruhan mencapai Rp1,378 miliar selama periode 2020–2025.
Apakah seluruh kegiatan tersebut telah selesai dan berfungsi sebagaimana peruntukannya?
Berapa nilai aset desa yang kini dimiliki dari kegiatan tersebut?
Berapa pendapatan yang telah dihasilkan BUMDes maupun Ruko Mondokan?
Dan yang paling penting, sejauh mana masyarakat Desa Tunggul telah merasakan manfaat dari penggunaan Dana Desa tersebut?
Media akan membuka ruang konfirmasi kepada Kepala Desa Tunggul, pengelola BUMDes, perangkat desa, serta pihak terkait lainnya guna memperoleh penjelasan mengenai realisasi, pengelolaan aset, dan manfaat dari kegiatan-kegiatan tersebut.
Catatan: Besaran anggaran dalam tulisan ini berdasarkan data yang dihimpun dan masih memerlukan pencocokan dengan APBDes, dokumen realisasi, serta keterangan resmi Pemerintah Desa Tunggul.
Selasa,29 September 2026
(Tim/Red)
More Stories
Dugaan Monopoli Proyek Revitalisasi TK TA Al-Atqo di Sowan Lor Disorot, Peran Kades Dipertanyakan!
Proyek TK/TA Srikandang 02 Jepara Disorot, APD dan Papan Informasi Belum Terpasang!
Pembangunan Puskesmas Juwangi Rp12 Miliar Disorot, Pekerja Diduga Belum Lengkapi APD!