Warga Keluhkan Limbah Bau SPPG Pulutan Nogosari, Dapur Berada di Bekas Kandang Sapi Milik Kades Giyarti!

BAGIKAN :

BOYOLALI, Veritas – Sejumlah warga di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulutan, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, mengeluhkan dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah dapur yang disebut mengeluarkan bau tidak sedap.

SPPG yang menjadi sorotan warga tersebut disebut-sebut berkaitan dengan Giyarti, Kepala Desa Pulutan yang saat ini menjabat melalui mekanisme Pergantian Antarwaktu (PAW).

Keluhan tersebut disampaikan sejumlah warga kepada awak media pada Minggu (8/11/2026). Mereka mengaku terganggu dengan aroma tidak sedap yang diduga berasal dari limbah aktivitas dapur SPPG.

Menurut keterangan beberapa warga, bangunan yang kini digunakan sebagai dapur SPPG sebelumnya merupakan bekas kandang sapi yang kemudian dialihfungsikan menjadi tempat pengolahan makanan.

“Warga mencium bau tidak sedap yang diduga berasal dari limbah dapur. Kami berharap persoalan ini segera diperhatikan karena lingkungan tempat tinggal kami juga harus dijaga,” ungkap salah seorang warga.

Keluhan Warga Disebut Tidak Mendapat Tanggapan
Warga mengungkapkan bahwa sejumlah masyarakat sebelumnya telah menyampaikan protes terkait kondisi lingkungan di sekitar dapur tersebut. Namun, menurut pengakuan warga, keluhan mereka belum mendapatkan penyelesaian sebagaimana yang diharapkan.

Persoalan lain yang turut disorot adalah dugaan aliran air limbah yang melewati lahan milik warga lain.

Warsito turut menyoroti persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa operasional dapur SPPG harus memperhatikan standar bangunan, ketersediaan lahan, sistem pengelolaan air limbah, serta akses jalan yang memadai.

“Jangan sampai operasional dapur pelayanan pemenuhan gizi justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat sekitar. Standar bangunan, pengelolaan limbah, dan akses jalan harus diperhatikan. Apalagi jika benar air limbah mengalir melalui lahan milik orang lain,” tegas Warsito.

Ia meminta pihak pengelola maupun mitra SPPG segera melakukan evaluasi terhadap kondisi bangunan dan sistem pembuangan limbah agar tidak merugikan masyarakat.

Warga Mengaku Ada yang Dipecat Setelah Mengunggah Keluhan
Hal lain yang menjadi perhatian adalah pengakuan warga mengenai adanya seseorang yang disebut mengalami pemutusan hubungan kerja setelah menyampaikan keluhan melalui status WhatsApp.

Menurut penuturan warga, seseorang yang mengunggah persoalan tersebut di WhatsApp Story disebut langsung diberhentikan.

Namun, informasi mengenai dugaan pemecatan tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak yang bersangkutan maupun pengelola SPPG.
Jika benar terjadi, persoalan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Riwayat Keluhan terhadap Pelayanan Kepala Desa
Sejumlah warga juga mengaitkan persoalan SPPG ini dengan keluhan mereka sebelumnya mengenai pelayanan administrasi pemerintahan desa.

Warga menyebut Giyarti pernah menjadi perbincangan karena dianggap sulit ditemui atau dimintai tanda tangan untuk keperluan administrasi warga.

Pengakuan tersebut merupakan keterangan warga yang masih perlu dikonfirmasi kepada pihak pemerintah desa.

Masyarakat berharap persoalan pelayanan publik maupun lingkungan tidak dibiarkan berlarut-larut.

Warsito meminta instansi terkait, termasuk pemerintah daerah dan pihak yang berwenang mengawasi operasional SPPG, turun langsung melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan diharapkan meliputi kelayakan bangunan, standar sanitasi dapur, pengelolaan limbah cair, ketersediaan akses jalan, serta dampak aktivitas dapur terhadap lingkungan sekitar.

Menurutnya, program pemenuhan gizi masyarakat harus berjalan dengan baik, tetapi hak warga sekitar untuk mendapatkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman juga wajib diperhatikan.

“Warga jangan sampai hanya menjadi pihak yang menanggung dampak. Kalau ada keluhan, harus didengarkan dan diselesaikan. Program yang baik harus dijalankan dengan tata kelola yang baik pula,” tegasnya.

Hingga berita ini disusun, keluhan warga dan berbagai dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Redaksi MATA JATENG membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Giyarti selaku Kepala Desa Pulutan maupun pihak pengelola dan mitra SPPG Pulutan.

MATA JATENG – Lahirnya Sejuta Penulis Indonesia.