Veritas,Solo– Dengan penuh khidmat dan tata adat yang dijalankan secara cermat, jenazah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII (PB XIII) dimakamkan di Astana Raja‑Raja Mataram Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu pagi pada pukul 08.00 WIB.
PB XIII menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 2 November 2025, setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit sejak September. Keluarga besar keraton kemudian menggelar rapat internal dan menetapkan tanggal pemakaman pada hari Rabu, 5 November 2025, di Imogiri.
Upacara pemakaman PB XIII dilaksanakan dengan rangkaian tradisi keraton yang lengkap mulai dari prosesi mandikan jenazah, salat jenazah, kirab kereta jenazah, hingga pengangkutan ke tempat pemakaman.
Jenazah dibawa dari kompleks keraton di Surakarta menuju Imogiri melalui rute yang telah ditentukan, yakni melalui Bangsal Magangan, Alun-alun Kidul, Plengkung Gading, simpang Tipes, dan Jalan Slamet Riyadi, sebelum transit di Loji Gandrung.
Dalam rangka kelancaran acara dan antisipasi kerumunan, Polres Bantul menurunkan sekitar 230 personel gabungan untuk mengamankan jalur maupun lokasi pemakaman.
Pemakaman seorang susuhunan seperti PB XIII bukan sekadar acara keluarga, melainkan juga momen penghormatan budaya dan tradisi keraton yang memiliki nilai historis bagi masyarakat Jawa. Dalam konteks ini, upacara pemakaman menjadi wujud penghormatan akhir kepada pemimpin adat dan simbol kontinuitas warisan budaya.
Penetapan tanggal dan tata cara yang terstruktur menunjukkan bahwa keraton mempertahankan tata kelola adat meskipun dalam era modern.
Momen pemakaman PB XIII di Imogiri menandai berakhirnya satu era dalam garis kepemimpinan keraton Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Prosesi yang berlangsung dengan tertib, khidmat, dan memperhatikan protokol pengamanan, mencerminkan kombinasi antara penghormatan tradisi dan tanggung jawab publik.
Kamis,6 November 2025
Pewarta : Fandin putra
More Stories
Penobatan Raja Baru Keraton Solo Digelar di Tengah Kisruh Suksesi!
Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM) : Keraton Tetap Pada Paugeran Sebagai Punjering Budaya Jawa Yang Agung nan Luhur.*