Veritas,Sragen — Putus asa berubah menjadi aksi simbolik. Seorang kepala desa di Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, memilih “mandi lumpur” di tengah jalan desa yang rusak parah sebagai bentuk protes terbuka kepada pemerintah.
Aksi ini bukan pencitraan, melainkan jeritan keras dari desa yang merasa ditinggalkan. Jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga—petani, pelajar, dan masyarakat umum—telah bertahun-tahun berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan dan debu tebal saat kemarau.

Ironisnya, kondisi ini seolah dianggap biasa oleh para pemangku kebijakan.
Menurut keterangan, pengajuan proposal perbaikan jalan sudah dilakukan sejak tahun 2019. Namun hingga kini, tak ada kejelasan. Tak ada realisasi. Tak ada penjelasan. Proposal itu seakan lenyap ditelan birokrasi.
“Kalau jalan mulus hanya ada di laporan, biar lumpur ini jadi saksi,” begitu pesan diam yang disampaikan lewat tubuh yang duduk di genangan lumpur.

Di saat kendaraan bermotor harus berjibaku melewati jalan rusak, anak-anak sekolah dan warga setiap hari mempertaruhkan keselamatan. Tapi anggaran seolah selalu menemukan jalan lain—bukan ke Ngepringan.
Aksi mandi lumpur ini menjadi tamparan keras: bahwa pembangunan belum tentu menyentuh semua desa, dan bahwa suara dari pinggiran sering kali harus berteriak lebih keras agar didengar.
Pertanyaannya kini sederhana tapi menusuk:
sampai kapan Desa Ngepringan harus sabar, sementara janji perbaikan terus menguap tanpa jejak?
Selasa ,20/1/26
Pewarta: VIN
More Stories
Pekerjaan Talud Dana Desa Tahun Anggaran 2025 Rp20 Juta di RT 17 Gawan Disorot, Material dan Waktu Kerja Dipertanyakan!
Jalur Penyelamat Yang Retak, Hukum Yang Dipertaruhkan!
GEBYAR UNDIAN TAHAP III TABUNGAN DAN KREDIT,BANK DAERAH KARANGANYAR (BDK).